The LoungeTulisan

Tips Menjadi Penumpang Pesawat Yang Bijak

Tips Menjadi Penumpang Pesawat Yang Bijak

Para penumpang pesawat merupakan konsumen bagi industri penerbangan komersial. Konsumen adalah raja, begitulah paham yang berkembang dimasyarakat kita. Paham ini pulalah yang sering digunakan sebagai pembenaran atas pelanggaran aturan oleh sejumlah penumpang ‘nakal’. Padahal aturan-aturan tersebut dibuat dengan alasan keamanan, keselamatan dan kenyamanan penumpang itu sendiri.

Kita sering menuding penyebab sebuah kecelakaan pesawat adalah pemerintah yang tidak tegas atau operator / perusahaan penerbangan yang bermain curang. Dalam beberapa kasus hal ini benar, namun sering kita lupakan andil kita sebagai penumpang dalam ‘menyumbangkan’ penyebab kecelakaan.

Mungkin tidak disadari pelanggaran – pelanggaran kecil yang sering dilakukan penumpang yang selama ini dianggap lumrah juga dapat mengancam keselamatan penerbangan.

Barang bawaan besar bukan dibawa ke kabin

Sering dijumpai penumpang yang membawa barang dalam ukuran cukup besar ke dalam kabin pesawat, padahal sudah disediakan ruang khusus bagasi pada pesawat. Tidak mau repot dalam pengambilan bagasi menjadi alasan klise. Atau ada juga yang beralasan agar bisa cepat meninggalkan bandara sesampainya di tujuan. Namun mereka lupa akan bahaya yang bisa ditimbulkan dari tindakan mereka.

Pada kabin pesawat memang tersedia tempat penyimpanan di atas tempat duduk (overhead), namun tempat penyimpanan itu tidak dirancang untuk menyimpan barang dalam ukuran besar dan cukup berat. Selama penerbangan pesawat akan mengalami guncangan.

Guncangan-guncangan ini dapat membuat tempat penyimpanan ‘terbuka’ dan barang yang disimpan di tempat penyimpanan itu bisa jatuh. Bayangkan apa yang terjadi bila barang yang ‘cukup’ berat itu menimpa kepala penumpang. Kita sering berfikir, itukan terjadi bukan pada diri saya, bagaimana jika terjadi pada diri kita?

Matikan ponsel sebelum masuk pesawat

Ponsel bekerja dengan cara memancarkan dan menerima gelombang elektromagnetik. Begitu juga dengan sistem komunikasi dan navigasi pada pesawat juga menggunakan gelombang elektromagnetik. Mulai dari komunikasi antara pilot dan ATC (Air Traffic Controller) hingga peralatan navigasi seperti VOR dan GPS juga menggunakan gelombang elektromagnetik. Sebagaimana kita ketahui, dua atau lebih gelombang elektromagnetik bisa saling mempengaruhi.

Suatu kejadian beberapa waktu lalu yang penulis alami, saat itu sedang dalam proses boarding (naik ke pesawat) pada suatu penerbangan. Penulis duduk di kursi 1A, dan disebelah penulis duduk penumpang lain yang asyik ‘bermain’ dengan ponsel-nya. Saat itu seorang pramugari lewat didekatnya dan meminta agar ponselnya dimatikan. Pada saat itu iya mematikan ponselnya.

Namun tak lama berselang setelah pramugari pergi menjauh, ia kembali menghidupkan ponselnya dengan sebelumnya memastikan tidak ada pramugari lain di dekatnya. Seolah-olah pramugarilah yang terganggu karena ia menghidupkan ponselnya di pesawat. Dia tidak menyadari bahaya akibat perbuatannya, walaupun pada saat itu pintu pesawat belum ditutup.

Kita sering beranggapan aturan mematikan ponsel itu berlaku saat kita sudah di dalam pesawat dan pintu pesawat telah ditutup. Suatu anggapan yang keliru. Secara teknis, pilot sudah mulai berkomunikasi dengan ATC sejak masih di parking area atau sebelum mesin dihidupkan atau dalam posisi idle. Pilot berkomunikasi dengan ATC mulai dari membicarakan rencana penerbangan, informasi cuaca sepanjang rute penerbangan, izin menghidupkan mesin, izin untuk memulai taxi, izin untuk memasuki runway, izin melakukan take off, panduan selama terbang, izin untuk mendarat hingga izin untuk parkir lagi di bandara tujuan. Dan selama itu pula komunikasi menjadi hal penting dalam penerbangan.

Ada satu kebiasaan dalam masyarakat kita, belum percaya jika belum ada bukti. Suatu kebiasaan untuk hal tertentu bisa dikatakan baik. Sejumlah kejadian telah menjadi bukti gangguan komunikasi yang ditimbulkan oleh ponsel, baik hanya gangguan kecil maupun yang berakibat fatal.

Sabuk pengaman bukan untuk gaya

Tidak nyaman, ribet dan berbagai alasan lainnya sering dilontarkan penumpang ketika menolak memakai sabuk pengaman. Pada dasarnya sabuk pengaman dibuat untuk membuat tubuh para penumpang tetap di tempat duduk selama penerbangan.

Selama penerbangannya, pesawat akan mengalami guncangan akibat turbulance. Guncangan ini bervariasi mulai dari kecil hingga besar yang dapat melontarkan tubuh penumpang dari kursinya. Penumpang yang tidak memakai sabuk pengaman bisa terpental dan bisa mengalami cedera akibat benturan dengan dinding atau bagian lain di kabin.

Untuk menghindari kemungkinan cedera itulah penumpang diminta menggunakan sabuk pengaman. Pilih mana, cedera atau sedikit ‘ribet’ dengan memakai sabuk pengaman?

Pramugari jangan dicuekin donk

Berdasarkan aturan keselamatan penerbangan sipil, awak kabin diharuskan menjelaskan aturan – aturan dan prosedur keselamatan selama penerbangan sebelum pesawat lepas landas (take off). Tujuannya agar para penumpang tau mengenai aturan selama penerbangan dan selalu siap dalam kondisi darurat. Pengertian kata siap di sini yaitu tau apa yang harus dilakukan pada saat darurat. Namun, bagi beberapa penumpang yang sudah sering bepergian dengan pesawat terbang, peragaan yang dilakukan para awak kabin sering kali dianggap sebagai sesuatu yang membosankan sehingga mereka sering tidak memperhatikannya.

Sudah mengerti, sudah tahu, sudah sering lihat, menjadi alasan mereka untuk tidak memperhatikan peragaan yang dilakukan awak kabin. Padahal menurut suatu studi, hal yang mereka pikir mengerti, pada kenyataannya hanyalah quasi (seolah – olah) mengerti. Hal inilah yang akan membedakan antara penumpang yang memperhatikan dan yang tidak memperhatikan peragaan yang dilakukan awak kabin.

Bukankah dimasyarakat kita berkembang istilah lancar kaji karena diulang, hal ini juga berlaku untuk kasus penerbangan sipil. jadi, tak ada ruginya Anda memperhatikan peragaan yang dilakukan awak kabin, bahkan ini akan berguna pada kondisi darurat. Ingatan Anda yang masih segar, baik karena baru memperhatikan maupun karena baru saja di refresh dengan memperhatikan lagi, akan membuat Anda tenang karena tau tindakan apa yang harus dilakukan pada kondisi darurat.

Pola pikir masyarakat

Selain 4 hal di atas, pola pikir yang berkembang dimasyarakat juga memperngaruhi tingkat keselamatan penerbangan nasional. Saat ini yang berkembang di masyarakat adalah kecenderungan calon penumpang mencari tiket termurah tanpa memperhatikan aspek keselamtan. Para penumpang ini baru enggan menggunakan suatu layanan murah saat sudah ada pesawat milik maskapai tersebut mengalami kecelakaan, selama itu belum terjadi para calon penumpang ini akan selalu menggunakan layanan murah.

Pola pikir seperti inilah pada dasarnya menciptakan suasana bisnis yang memaksa para pengusaha penerbangan sipil untuk memberikan tiket murah. Jika tidak bisa lebih murah dari maskapai lain, maka akan terancam kehilangan penumpang. Sebuah suasana yang bagi segelintir calon penumpang sangat menguntungkan, karena bisa mendapatkan tiket murah.

Sebuah suasana yang sebenarnya menyimpan ‘bom waktu’ yang membahayakan penerbangan nasional. Pola pikir inilah yang memunculkan perusahaan penerbangan dengan konsep LCA (low cost airline) /. LCC (low cost carrier), bahkan perusahaan yang pada awalnya adalah airline dengan layanan penuh (full service) terpaksa mengikuti tren agar tak kehilangan penumpang.

Jika dilakukan dengan menejemen bisnis dan keselamatan yang baik, sesungguhnya konsep LCC cukup baik, namun sayangnya masih ada airline yang ‘nakal’ dan ketidak siapan regulator mengawasi membuat airline nakal ini leluasa melakukan ‘kenakalannya’. Untuk bisa memberikan tiket murah, tentunya suatu maskapai penerbangan harus menekan cost serendah mungkin agar tetap mendapatkan keuntungan. Untuk itu dilakukanlah pemangkasan biaya yang masih bisa dipangkas. Pemangkasan biaya inilah yang bakal menjadi ‘bom waktu’ jika regulator tak waspada.

Sebuah pesawat selalu membawa bahan bakar yang cukup untuk mencapai tujuan ditambah bahan bakar cadangan untuk holding (tetap mengudara di bandara tujuan jika belum bisa mendarat dengan alasan cuaca atau hal lainnya) atau menuju bandara alternatif jika bandara tujuan tidak bisa didarati. Bahan bakar cadangan inilah yang sering dipangkas oleh maskapai ‘nakal’. Akibatnya, pilot hanya punya satu kali kesempatan untuk menerbangkan dan mendaratkan pesawatnya menuju bandara tujuan.

Alhasil, jika bandara tujuan belum aman untuk didarati, misal karena cuaca yang tak baik, pilot terpaksa mendaratkannya karena tak punya bahan bakar lagi untuk mencari alternatif. Tindakan memaksa mendarat dalam kondisi buruk inilah yang akan menimbulkan kecelakaan, dan hal ini sudah pernah terjadi di Indonesia.

Selain jumlah bahan bakar yang sering ‘disunat’, biaya perawatan juga sering menjadi sasaran pemangkasan oleh maskapai penerbangan nakal. Biaya perawatan ini melinkupi perawatan rutin dan suku cadang. Perawatan merupakan hal wajib agar sebuah pesawat selalu dalam kondisi aman untuk diterbangkan. Proses perawatan yang kurang baik bisa mengakibatkan sejumlah sistem di pesawat tidak beroperasi dengan baik. Selain itu perawatan yang kurang baik sering kali menyebabkan tidak terdeteksinya gejala penuaan pada pesawat seperti retak, korosi dan lainnya. Sistem yang tak bekerja baik, adanya sejumlah kegagalan fisik pada pesawat dapat membahayakan pesawat, mulai dari nyasar hingga jatuh akibat mesin yang tak beroperasi baik.

Pada dasarnya sebuah kecelakaan pesawat terbang adalah akibat dari tergabungnya beberapa kesalahan yang terjadi pada waktu bersamaan. Operator, regulator dan penumpang, semuanya punya andil dalam mengakibatkan penerbangan yang tak aman. Begitu juga sebaliknya, untuk menciptakan penerbangan yang aman, operator, regulator dan penumpang harus bekerjasama. Tidak adil rasanya jika kita selalu menuduh pemerintah sebagai regulator tidak tegas dalam menegakkan aturan atau airline sebagai operator sering berlaku curang, padahal kita sebagai penumpang belum bisa menjadi penumpang yang baik dan bijak.

Jika regulator sudah melakukan tugasnya dengan baik dan benar, operator menjalankan bisnisnya sesuai dengan aturan, dan kita sebagai penumpang telah menjadi penumpang yang baik dan bijak, maka kebangkitan penerbangan nasional bukan lagi sekedar mimpi atau wacana di media massa.

Tulisan oleh FlyingMaster

—–
Follow Destinasio on:
Facebook destinasiomag
Twitter @destinasiomag
Instagram @destinasiomag
Email : heyo@destinasio.com

You may also like

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in The Lounge