Pesona IndonesiaTulisan

Jejak Belanda & Tradisi Yogyakarta di Benteng Vredeburg

Jejak Belanda & Tradisi Yogyakarta di Benteng Vredeburg 1
Photo via instagram @yennicmarbun

Berwisata ke Yogyakarta rasanya kurang lengkap jika tidak mengunjungi Benteng Vredeburg. Anda jangan hanya puas jalan-jalan di Malioboro saja. Jika waktu Anda masih tersisa, sempatkanlah untuk menyusuri jalan Malioboro ke arah selatan, yakni ke kawasan nol kilometer. Kawasan yang terletak di perempatan Kantor Pos Besar ini merupakan jantungnya Kota Jogja. Di tempat ini terdapat banyak bangunan bersejarah yang memiliki peranan penting dalam perjalanan panjang sejarah Kota Yogyakarta, bahkan sejarah Indonesia. Salah satu dari bangunan tersebut adalah Benteng Vredeburg.

Jejak Belanda & Tradisi Yogyakarta di Benteng Vredeburg 1

Photo via instagram @yennicmarbun

Benteng Vredeburg pada mulanya hanyalah sebuah benteng sederhana berbentuk bujur sangkar yang dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1760 atas permintaan pemerintah kolonial Belanda masa itu, Nicolas Harting. Benteng sederhana ini memiliki 4 bastion pada masing-masing sudutnya yang diberi nama Jayawisesa (sudut barat laut), Jayapurusa (sudut timur laut), Jayaprakosaning (sudut barat daya) dan Jayaprayitna (sudut tenggara).

Ketika Nicolas Harting digantikan oleh W.H Ossenberch pada tahun 1762, Belanda mengusulkan kepada Sultan supaya benteng tersebut diperkuat menjadi bangunan yang lebih permanen. Usul tersebut dikabulkan. Pembangunan benteng pun dimulai pada tahun 1767 dengan diawasi oleh ahli ilmu bangunan Belanda yang bernama Ir. Frans Haak. Pembangunan benteng ini selesai pada tahun 1787. Setelah selesai, bangunan tersebut diberi nama Benteng Rustenburg yang artinya “Benteng peristirahatan”.

Jejak Belanda & Tradisi Yogyakarta di Benteng Vredeburg 1

Photo via instagram @risman3551

Tempat Wisata Yogyakarta Benteng Vredeburg

Photo via instagram @syifamsyafa_

Pada tahun 1867 terjadi gempa bumi di Yogyakarta yang merubuhkan Gedung Agung, Tugu Pal Putih (Tugu Jogja), dan juga Benteng Rustenberg. Setelah bencana berlalu, Benteng Rustenberg pun dibenahi kembali dan namanya diganti menjadi benteng Vredeburg yang berarti “Benteng Perdamaian”. Nama ini dipilih sebagai manifestasi hubungan antara Kasultanan Yogyakarta dan pemerintah Belanda yang tidak saling menyerang pada masa itu. Nama itu pula yang dikenal hingga saat ini.

Seiring dengan perkembangan politik Indonesia, status kepemilikan Benteng Vredeburg mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Pada awal berdiri, benteng ini milik Keraton yang penggunaanya dihibahkan kepada Belanda (VOC). Kebangkrutan VOC menyebabkan penguasaan benteng diambil alih oleh Bataafsche Republic (Pemerintah Belanda). Setelah Inggris berkuasa, benteng jatuh ke penguasaan Jendral Raffles, kemudian kembali lagi ke pemerintah Belanda hingga kedatangan Jepang. Setelah Indonesia merdeka, secara otomatis benteng berpindah tangan menjadi milik pemerintah Indonesia.

Atas ijin dari Sri Sultan HB IX, pada tanggal 9 Agustus 1980 Benteng Vredeburg dijadikan sebagai Pusat Informasi dan Pengembangan Budaya Nusantara. 12 tahun sesudahnya yakni pada 23 November 1992, Benteng Vredeburg resmi menjadi “Monumen Perjuangan Nasional” dengan nama “Museum Benteng Vredeburg”. Saat ini, selain difungsikan sebagai museum, Benteng Vredeburg juga sering digunakan sebagai tempat dilangsungkannya berbagai kegiatan seni dan budaya.

Keistimewaan Benteng Vredeburg

Jika Anda membayangkan Benteng Vredeburg sebagai sebuah bangunan kuno yang sudah lapuk dan tidak terawat, Anda salah besar. Kondisi Benteng Vredeburg cukup terawat dan bersih. Meskipun bagian dalam benteng telah dipugar dan disesuaikan dengan fungsinya yang baru sebagai ruang museum, Benteng Vredeburg tetap menyisakan aroma kemegahan masa lalu. Benteng Vredeburg dikelilingi oleh parit lebar, sehingga Anda harus lewat jembatan penghubung untuk dapat masuk ke benteng tersebut.

Benteng yang berbentuk segi empat ini memiliki menara pengawas di keempat sudutnya dan kubu yang dulu digunakan tentara Belanda untuk berjalan berkeliling sambil berjaga-jaga. Saat menjelang senja dan cuaca cerah, akan terlihat pemandangan yang bagus dari atas tempat ini. Ribuan burung sriti berterbangan di kawasan titik nol menghiasi langit sore yang berwarna-warni. Di tambah pemandangan kendaraan, andong, becak, dan sepeda onthel yang bersliweran di jalan raya, serta lampu jalan dan bangunan di kawasan nol kilometer yang mulai menyala, semuanya akan memberikan kesan yang mendalam tentang salah satu sudut Kota Jogja.

Koleksi Diorama Benteng Vredeburg

Di dalam bangunan benteng terdapat ratusan diorama yang menggambarkan tentang perjuangan rakyat Indonesia sebelum proklamasi kemerdekaan hingga masa orde baru. Selain itu, terdapat juga koleksi benda-benda bersejarah, foto-foto, dan lukisan tentang perjuangan nasional dalam merintis, mencapai, mempertahankan, serta mengisi kemerdekaan Indonesia. Diorama dan koleksi benda-benda bersejarah tersebut dilengkapi dengan tulisan yang berisikan informasi tentang peristiwa yang terjadi pada masa itu.

Koleksi Diorama Benteng Vredeburg Yogyakarta

Photo via instagram @sribu_diayu

Ruangan-ruangan yang ada di dalam benteng seringkali digunakan sebagai tempat seminar, pameran lukisan, atau kegiatan budaya lainnya. Bahkan setiap tahun, Benteng Vredeburg selalu dijadikan sebagai pusat penyelenggaraan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Selama sebulan penuh Benteng Vredeburg akan semarak dengan pertunjukan seni budaya. Tak hanya FKY, Festival Gamelan Gaul yang rutin dilaksanakan tiap tahun juga seringkali dilaksanakan di tempat ini.

Bagi Anda yang suka bersepeda, di dalam benteng ini terdapat penyewaan sepeda onthel. Cukup membayar Rp 5.000,00, Anda dapat puas bersepeda mengitari bangunan ini. Atau jika Anda membawa laptop, Anda dapat berselancar di dunia maya sambil duduk-duduk di halaman benteng yang rimbun dan asri. Hal ini dikarenakan Benteng Vredeburg memiliki fasilitas hotspot gratis bagi para pengunjung.

Akomodasi Ke Benteng Vredeburg

Kompleks Benteng Vredeburg mempunyai berbagai fasilitas yang dapat digunakan oleh wisatawan maupun instansi dan lembaga yang ingin mengadakan kegiatan di kawasan tersebut. Fasilitas yang ada meliputi perpustakaan, ruang pertunjukan, ruang seminar, ruang belajar kelompok dan audio visual, ruang tamu, koperasi, mushola, dan kamar mandi. Di tempat ini juga terdapat fasilitas hotspot gratis. Jika wisatawan membutuhkan pemandu untuk menjelaskan tentang sejarah dan seluk-beluk Benteng Vredeburg, wisatawan tinggal menghubungi pihak pengelola.

Selain fasilitas yang ada di dalam kompleks benteng, ada banyak fasilitas pendukung lain di luar benteng. Hotel, rumah makan, pusat perbelanjaan, rumah sakit, warnet, tempat ibadah, transportasi publik, semuanya akan Anda temukan dalam radius tidak lebih dari 1 kilometer.

Jika Anda sudah puas mengelilingi Benteng Vredeberg, Anda bisa melanjutkan perjalanan ke bangunan bersejarah atau obyek wisata yang ada di seputaran titik nol Yogyakarta. Obyek wisata tersebut antara lain Gedung Agung, Kantor Pos Besar, Gedung Bank Indonesia, Taman Pintar, Taman Budaya Yogyakarta, Keraton Yogyakarta, dan Masjid Gede Kauman. Anda tidak perlu menggunakan kendaraan untuk sampai di obyek-obyek tersebut, karena lokasinya dekat dan bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Tulisan oleh islamholic

—–
Follow Destinasio on:
Facebook destinasiomag
Twitter @destinasiomag
Instagram @destinasiomag
Email : heyo@destinasio.com

You may also like

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *